Dari Meuseuraya Hingga Masohi: Menghidupkan Kearifan Lokal Dalam Rehabilitasi Bencana

Authors

  • Tengku Miftahul Heldra Sandiza Pusjar SKPP, Lembaga Administrasi Negara, Indonesia
  • Joanna Kriskinantyas Rahayu Penelaah Teknis Kebijakan Magang Kemnaker
  • Dewi Sartika Pusjar SKPP, Lembaga Administrasi Negara, Indonesia

Abstract

Rehabilitasi pasca bencana di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa lemahnya kolaborasi lintas aktor, belum terintegrasinya kearifan lokal, serta terbatasnya kapasitas mediasi konflik di tingkat daerah. Kebijakan yang selama ini berfokus pada pemulihan fisik belum sepenuhnya menjawab persoalan sosial seperti distribusi bantuan, relokasi, dan marginalisasi kelompok rentan. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang lebih inklusif melalui Community-Based Post-Disaster Rehabilitation Program (CB-PDRP) yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dengan dukungan pemerintah, serta Dialogue for Peace yang memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan komunitas lokal dalam mediasi konflik dan dialog sosial. Dengan menyelaraskan kebijakan nasional dan daerah serta mengintegrasikan kearifan lokal, diharapkan rehabilitasi pasca bencana dapat menghasilkan pemulihan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana di masa depan

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-02-28

How to Cite

Tengku Miftahul Heldra Sandiza, Joanna Kriskinantyas Rahayu, & Dewi Sartika. (2026). Dari Meuseuraya Hingga Masohi: Menghidupkan Kearifan Lokal Dalam Rehabilitasi Bencana. Suara Analis Kebijakan, 4(1). Retrieved from https://sajak.lan.go.id/article/view/145