Rescuer Mental Health In Search And Rescue (SAR) Operations: Challenges, Risk, and Intervention Strategies

Authors

  • Andriansyah Analis Kebijakan Ahli Muda - BASARNAS
  • Narita Mayasari Penata Laksana barang Penyelia - BASARNAS

Abstract

Profesi rescuer dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR) sering menghadapi tekanan psikologis tinggi akibat paparan kejadian traumatis, tuntutan kerja ekstrim, dan risiko keselamatan. Tekanan psikologis seperti stres kronis, kecemasan, depresi, dan post-traumatic stress disorder dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara beban kerja, dukungan organisasi, dan ketahanan individu.Risiko keselamatan seperti terjatuh, tertimpa material, terluka, terbakar, terseret arus, tenggelam, terkontaminasi gas beracun/radioaktif, hipotermia, dekompresi dan cidera disebabkan oleh kondisi kerja yang tidak aman (unsafe condition). Kemampuan bertindak cepat, tepat dan aman dalam rangka menyelamatkan korban menjadi tuntutan pekerjaan bagi seorang rescuer. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan komponen penting dalam produktivitas kerja dan kesejahteraan individu. Dalam konteks SAR, kesehatan mental menjadi faktor kunci yang mempengaruhi kualitas pengambilan keputusan dan keselamatan operasi SAR. Kajian ini bertujuan mengembangkan model konseptual dan indeks kesehatan mental rescuer berbasis faktor individu, organisasi, dan operasional. Pentingnya integrasi kebijakan kesehatan mental dalam sistem manajemen SAR untuk meningkatkan efektivitas layanan operasi SAR dan keselamatan personil.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-06-29

How to Cite

Andriansyah, & Narita Mayasari. (2026). Rescuer Mental Health In Search And Rescue (SAR) Operations: Challenges, Risk, and Intervention Strategies. Suara Analis Kebijakan, 4(3). Retrieved from https://sajak.lan.go.id/article/view/200

Issue

Section

Policy Brief