Masa Depan Lautan Rendah Karbon: Agenda Transisi Energi Kapal Penumpang Indonesia
Keywords:
transisi energi, transportasi laut, dekarbonisasi, energi maritim berkelanjutan, batamAbstract
Transportasi laut penumpang internasional di Batam–Malaysia dan Batam–Singapura masih bergantung pada kapal berbahan bakar fosil sehingga menciptakan carbon lock-in multidimensi, diantaranya technological lock-in (armada tua dan minim infrastruktur energi hijau), institutional lock-in (regulasi transisi energi belum tegas), dan behavioral lock-in (resistensi operator serta sensitivitas penumpang pada biaya tambahan).
Masalah ini penting karena berdampak pada lingkungan (tingginya emisi karbon), ekonomi (daya saing pelabuhan menurun), dan geopolitik (Indonesia tertinggal dari Singapura dan Malaysia dalam transisi energi maritim).
Alternatif solusi yang dapat dipertimbangkan mencakup: penyusunan regulasi nasional yang selaras dengan target dekarbonisasi International Maritime Organization (IMO), pemberian subsidi dan insentif fiskal bagi operator kapal yang beralih ke energi hijau, revitalisasi armada kapal penumpang, serta kolaborasi regional dengan Singapura dan Malaysia untuk pengembangan infrastruktur energi maritim berkelanjutan. Langkah ini akan menempatkan Batam sebagai pilot project green maritime hub, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam dekarbonisasi transportasi laut internasional.
Downloads
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Suara Analis Kebijakan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

